Perjuangan yang Berbuah Hasil
Bagi Salsa masa muda harus di jalani dengan santai, bersama kedua sahabatnya Dewi dan Rani. Mereka terkenal di kalangan para murid, guru, bahkan penunggu kamar mandi cewek yang tak luput dari ulah jahil mereka. Namun, prestasi mereka juga tak boleh di remehkan, ya setidaknya mereka masuk dua puluh besarlah di kelasnya yang hanya berjumlah tiga puluh. Di tingkat terakhir SMA ini mereka ingin mengadakan perubahan image yang sudah terkenal itu demi mendapat sebuah pencerahan saat mengerjakan soal-soal Ujian Nasional. Ternyata perubahan itu di sadari oleh para teman-temannya dan juga para guru. Bahkan penunggu kamar mandi cewek pun heran.
Mereka setiap malam memanfaatkan waktu untuk belajar dan mengerjakan soal-soal mulai dari soal UN, SBMPTN, UM, dan lain-lain. Bahkan mereka membentuk kelompok belajar. Tempat belajar bergiliran mulai dari Salsa, Dewi, lalu Rani.
Kringgggg...... Kringgggg..... Pelajaran telah selesai para siswa di persilahkan meninggalkan kelas
"Leh, ntar belajar di mana?" tanya Rani
"Rumahku, Ran. Mau milih apa, sate kelinci Kawatan atau Mie AA Poncol?" tawar Salsa.
"Es Buto ijo sisan lah," ujar Rani.
"Ealah, kalian mau belajar apa pesta? Besok kan ada ulangan barisan dan deret, ntar belajarnya mtk aja ya, leh," kata Dewi.
"Nggih, mbah." Sahut Salsa dan Rani kompak.
"Abis magrib gas rumah ya, biar ntar gak kemaleman belajarnya," pinta Salsa.
"Ok, jeng" Jawab Dewi disertai dua jempolnya Rani.
Malamnya Dewi dan Rani sudah sampai di depan pintu rumah Salsa.
Toktoktok.... Toktoktok....
"Kulonuwun," salam Rani.
"Yohhh..." Teriak Salsa dari dalam rumah.
Suara pintu terbuka diiringi oleh Dewi dan Rani yang nyelonong masuk. Mereka belajar di ruang tamu depan tv sebesar 42 inch. Di antara mereka Dewi lah yang memiliki kelebihan di bidang hitung menghitung. Tak jarang Dewi mendapat nilai A di kelas untuk pelajaran matematika. Masing-masing di antara mereka mempunyai kelebihan di satu pelajaran seperti, Rani yang kritis dalam berpikir di pelajaran Pkn, Salsa yang lihai dalam bercakap dengan para bule, dan Dewi yang lincah dalam hitungan. Walaupun mereka mempunyai image jelek namun, tak di hiraukan berkat keahlian mereka di bidangnya tidak membuat semua para guru membenci mereka. Berkat kelihaian mereka dalam bergaul dan sering bertingkah konyol banyak juga yang menyukai mereka.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
"Aduh, dari tadi belajar kok nggak mudeng ya malah mubeng," kesal Salsa.
"Lha, bisa dari mana? Dari tadi mata sampeyan di depan gadget terus," ujar Dewi kesal.
"Gabut je," ujar Salsa ngeles.
"Stop, walaupun aku yo nggak mudeng matematika, tapi aku setidaknya ngerti rumuse. Ayo, Sal semangat kita harus bisa bikin mereka yang memandang kita sebelah mata tercengang," ceramah Rani.
"Buktikan kalo kita tuh sumbut. Kita selama ini di pandang jelek oleh para guru bahkan kita pernah beberapa kali memasuki ruang BK. Tunjukkan kalo kita mampu bersaing dengan mereka yang menjadi kebanggaan para guru. Kita memang pernah ketauan nyontek sering malahan, yaa aku nggak menyombongkan dirilah, matematika kalo nggak di coba buat ngerjain soal nggak bakal kita tau. Nggak di situ tok, semuanya lah. Ini udah mepet banget waktunya. Stres, pasti tapi Tuhan kasih ujian ke kita nggak melebihi kemampuan kita. Jadi, apapun itu kita hadapi dengan tekad yang tinggi," ujar Dewi panjang lebar.
Prok prok prok prok prok....
"Quote of the day ki," kagum Salsa.
"Dengerin, Sal. Bukan masuk kuping kanan keluar kuping kiri," tambah Rani.
"Hehehehe.... Udah, ayo belajar lagi," jawab Salsa malu.
Keesokan harinya...
"Ya anak-anak, silahkan kumpulkan semua buku yang berbau matematika di meja ibu sekarang," pinta Pak Ari selaku guru matematika.
"Bentarlah Pak, lima menit lagi ya" pinta Salsa
"Lama kamu nak, kayak nunggu jodoh saja," timpal Pak Ari.
Gadis itu tertawa ngakak. Suaranya khas. Suara itu yang kadang membuat teman-teman dan gurunya senewen. “Ah, dulu ibumu ngidam burung kutilang, ya, “tanya gurunya.
“Wow, enak saja Bapak bilang, nggak Pak. Yang bener burung kuntul, “ timpal Salsa sambil meringkikkan tertawa khasnya.
Suasana kelas sedikit ramai berkat candaan yang dibuat Salsa. Sembilan puluh menit telah berlalu. Namun, raut gelisah nampak jelas terlihat di muka Salsa dan Rani ,Dewi yang melihatnya menenangkan mereka dengan memberikan senyum semangat. Sudah memasuki jam pulang.
"Udah nyantai aja, tak lihat tadi kamu nggak nyonto kok. Pasti ntar nilainya bagus. Percaya deh!" Ujar Dewi memberi semangat kepada temannya itu.
"Gan, nilai ulangan udah keluar. Ayo liat!" Ajak Dewi.
Salsa dan Rani bergegas menuju papan depan kelas yang sudah tertempel oleh selembar kertas yang membuat hati mereka ketar-ketir.
"Wah, aku tuntas." Ujar Rani senang.
"Aku juga, Ran. Wah, kalo gini mereka yang bilang kita nakal bakal narik kata-katanya. Hahahaha..." Bangga Dewi.
"Kamu juga tuntas kan, Sal?" Tanya Dewi pada Salsa.
"Iya, aku tuntas kok tapi nilai ku pas KKM nih," ujar Salsa.
"Halah nggak apa, yang penting kita semua tuntas dan kita bisa nunjukin ke mereka kalo kita bisa," ujar Rani.
"Iya, aku juga nggak nyonto dan itu murni hasil ku bukan hasil orang lain," kata Salsa senang.
Perjuangan yang mereka tempuh memang belum seberapa. Namun, itu semua adalah awal yang baik untuk memulai semua dari awal.
Ya, terima kasih. Coba cek dulu sebelum menggunggah tulisan. Penulisan imbuhan perlu diperhatikan dengan baik. Misalnya, di jalani, di remehkan (mestinya dirangkai). Penulisan tanda baca dalam dialog pun perlu konsisten (ajeg). Berikut sekadar pembetulan singkat mohon dibandingkan dengan teks asli Anda!
BalasHapusBagi Salsa masa muda harus di jalani dengan santai, bersama kedua sahabatnya Dewi dan Rani. Mereka terkenal di kalangan para murid, guru, bahkan penunggu kamar mandi cewek yang tak luput dari ulah jahil mereka. Namun, prestasi mereka juga tak boleh di remehkan, ya setidaknya mereka masuk dua puluh besarlah di kelasnya yang hanya berjumlah tiga puluh. Di tingkat terakhir SMA ini mereka ingin mengadakan perubahan image yang sudah terkenal itu demi mendapat sebuah pencerahan saat mengerjakan soal-soal Ujian Nasional. Ternyata perubahan itu di sadari oleh para teman-temannya dan juga para guru. Bahkan penunggu kamar mandi cewek pun heran.
Mereka setiap malam memanfaatkan waktu untuk belajar dan mengerjakan soal-soal mulai dari soal UN, SBMPTN, UM, dan lain-lain. Bahkan mereka membentuk kelompok belajar. Tempat belajar bergiliran mulai dari Salsa, Dewi, lalu Rani.
Kringgggg...... Kringgggg..... Pelajaran telah selesai para siswa di persilahkan meninggalkan kelas
"Leh, ntar belajar di mana?" tanya Rani
"Rumahku, Ran. Mau milih apa, sate kelinci Kawatan atau Mie AA Poncol?" tawar Salsa.
"Es Buto ijo sisan lah," ujar Rani.
"Ealah, kalian mau belajar apa pesta? Besok kan ada ulangan barisan dan deret, ntar belajarnya mtk aja ya, leh," kata Dewi.
"Nggih, mbah." Sahut Salsa dan Rani kompak.
"Abis magrib gas rumah ya, biar ntar gak kemaleman belajarnya," pinta Salsa.
"Ok, jeng" Jawab Dewi disertai dua jempolnya Rani.
Malamnya Dewi dan Rani sudah sampai di depan pintu rumah Salsa.
Toktoktok.... Toktoktok....
"Kulonuwun," salam Rani.
"Yohhh..." Teriak Salsa dari dalam rumah.